Back to IF3141 Sistem Informasi

Accountability, System Quality, and Quality of Life

Questions/Cues

  • Siapa yang bertanggung jawab atas kebocoran data (liability)?
  • Kapan tingkat kualitas sistem dianggap “cukup baik”?
  • Bagaimana Big Tech memusatkan kekuatan ekonomi & politik?
  • Apa dampak time-based competition pada kualitas hidup?
  • Apa perbedaan computer crime dan computer abuse, serta apa itu digital divide?

Reference Points

  • IF3141 Sistem Informasi (Slides 23-32)

Accountability & Control: Liability Problems

Pertanyaan inti: siapa yang bertanggung jawab (liable) atas kerugian ekonomi atau personal yang dialami individu/bisnis ketika data pribadi mereka dicuri dari perusahaan tempat mereka berinteraksi?

Kasus Under Armour (2018): Under Armour mengungkapkan bahwa peretas telah membobol aplikasi kebugarannya, MyFitnessPal, dan mencuri data dari lebih dari 150 juta akun pengguna. Data yang dicuri mencakup alamat email, password, dan username. Akibatnya, saham perusahaan turun 2% setelah pengumuman dan kemungkinan menyebabkan pengguna MyFitnessPal kehilangan kepercayaan pada aplikasi tersebut.

Kasus ini menyoroti dilema liability: ketika sistem yang kompleks gagal, sulit menentukan siapa yang harus menanggung kerugian — perusahaan, vendor software, atau pihak ketiga.

System Quality: Data Quality and System Errors

Pertanyaan inti: apa tingkat kualitas sistem yang dapat diterima dan layak secara teknologi? Kapan boleh berhenti melakukan pengujian (when to stop testing)?

Contoh kegagalan sistem berskala besar (cloud outages):

  • Google Cloud mengalami outage yang melumpuhkan platform seperti Snapchat, Spotify, dan Pokémon GO.
  • Amazon Web Services (AWS) mengalami outage yang melumpuhkan Alexa milik Amazon sendiri serta layanan enterprise seperti Atlassian, Slack, dan Twilio.
  • Microsoft Azure mengalami outage yang memengaruhi layanan storage dan networking di Eropa Utara.

Gray area (area abu-abu): beberapa kesalahan sistem dapat diprediksi (foreseeable) dan diperbaiki, tetapi hanya dengan biaya yang sangat besar — begitu besar sehingga mengejar tingkat kesempurnaan itu tidak layak secara ekonomi; tidak ada yang mampu membeli produknya. Sumber masalah kualitas: bug/error software, kegagalan hardware, dan kualitas data input yang buruk (penyebab paling umum).

Quality of Life: Konsentrasi Kekuatan Big Tech

Komputer dan TI berpotensi menghancurkan elemen berharga budaya dan masyarakat kita bahkan saat membawa manfaat. Jika ada keseimbangan konsekuensi baik dan buruk, siapa yang bertanggung jawab atas konsekuensi buruknya?

Big Tech: Memusatkan Kekuatan Ekonomi dan Politik:

  • Amazon: separuh dari ritel e-commerce.
  • Google: 87% pencarian online.
  • Netflix: 75% penonton video streaming.
  • Microsoft: 90% PC menggunakan Windows.

Kritikus menunjukkan bahwa kesejahteraan konsumen dirugikan bukan hanya melalui harga, melainkan dengan menghalangi perusahaan baru yang inovatif masuk ke pasar atau bertahan cukup lama untuk berkembang sebagai perusahaan independen.

Quality of Life: Rapidity of Change & Maintaining Boundaries

Rapidity of Change — Reduced Response Time to Competition: Sistem informasi menciptakan pasar nasional dan internasional yang jauh lebih efisien. Pasar global yang bergerak cepat telah mengurangi buffer sosial yang dulu memberi bisnis waktu bertahun-tahun untuk beradaptasi. Time-based competition punya sisi buruk: bisnis tempat Anda bekerja mungkin tidak punya cukup waktu merespons pesaing global dan bisa lenyap dalam setahun bersama pekerjaan Anda. Kita berisiko mengembangkan just-in-time society dengan pekerjaan, keluarga, dan liburan yang serba “just-in-time”. Salah satu dampak Uber dan perusahaan layanan on-demand adalah menciptakan pekerjaan just-in-time tanpa tunjangan/asuransi bagi pekerja.

Maintaining Boundaries — Family, Work, and Leisure: Batas tradisional yang memisahkan pekerjaan dari keluarga dan waktu luang telah melemah. Teknologi seperti smartphone membuat pekerjaan menyusup ke ranah pribadi kapan saja.

Quality of Life: Dependence, Crime, Employment & Equity

Dependence and Vulnerability (Ketergantungan & Kerentanan): Bisnis, pemerintah, sekolah, dan asosiasi privat saat ini sangat bergantung pada sistem informasi, sehingga sangat rentan jika sistem gagal. Bayangkan jika jaringan listrik nasional mati tanpa struktur cadangan.

Computer Crime and Abuse:

  • Computer Crime: pelaksanaan tindakan ilegal dengan menggunakan komputer atau terhadap sistem komputer. Contoh: malware, phishing, gangguan jaringan, spyware, dan serangan denial of service (DoS).
  • Computer Abuse: pelaksanaan tindakan yang melibatkan komputer yang mungkin tidak ilegal tetapi dianggap tidak etis. Contoh: spamming.

Employment — Trickle-Down Technology & Reengineering Job Loss: Mendesain ulang proses bisnis (reengineering) telah menyebabkan jutaan manajer pabrik tingkat menengah dan pekerja administrasi kehilangan pekerjaan. Namun teknologi baru juga menciptakan pekerjaan baru sebanyak atau lebih banyak dari yang dihancurkannya.

Equity and Access — Digital Divide: Apakah semua orang memiliki kesempatan setara untuk berpartisipasi di era digital? Digital divide adalah kesenjangan akses terhadap teknologi informasi yang memperlebar pemisahan rasial dan kelas sosial, antara mereka yang memiliki akses dan keterampilan digital dengan yang tidak.

mindmap
  root(("Quality<br/>of Life"))
    ("Konsentrasi kekuatan<br/>Big Tech")
    ("Rapidity of change<br/>(just-in-time society)")
    ("Maintaining boundaries<br/>(kerja-keluarga)")
    ("Dependence &<br/>vulnerability")
    ("Computer crime<br/>& abuse")
    ("Employment<br/>(reengineering job loss)")
    ("Equity & access<br/>(digital divide)")

Summary

Dimensi accountability memunculkan liability problems: kasus Under Armour/MyFitnessPal (2018) dengan 150 juta akun dicuri menunjukkan sulitnya menentukan siapa yang bertanggung jawab. System quality mempertanyakan kapan pengujian cukup, dengan cloud outages Google, AWS, dan Azure sebagai bukti bahwa kesempurnaan sering tidak layak secara ekonomi. Dimensi quality of life mencakup: konsentrasi kekuatan Big Tech yang menghambat inovasi, rapidity of change yang menciptakan just-in-time society, melemahnya batas kerja-keluarga, ketergantungan & kerentanan pada sistem, computer crime vs abuse, kehilangan pekerjaan akibat reengineering, serta digital divide yang memperlebar kesenjangan akses.