Back to IF3141 Sistem Informasi
Stakeholders and Architecture Governance
Questions/Cues
- Siapa saja stakeholders dalam arsitektur?
- Apa peran architecture planning (strategic vs tactical)?
- Mengapa governance krusial dalam architecture management?
- Apa tiga hal yang dibutuhkan governance?
- Apa saja governance processes?
Reference Points
- IF3141 Sistem Informasi (Slides 28-32)
Stakeholders dan Roles dalam Arsitektur
Arsitektur melibatkan banyak stakeholder dengan kepentingan beragam. Daftar stakeholder dan role utama:
- Organisation owners/board — pemilik dan dewan direksi yang menetapkan arah strategis
- External legal, standard dan compliance regimes — rezim hukum, standar, dan kepatuhan eksternal
- Senior business management — manajemen bisnis senior
- Project, programme dan portfolio management — pengelola proyek, program, dan portofolio
- Operations managers — manajer operasional
- Process workers dan application users — pekerja proses dan pengguna aplikasi
- Suppliers — pemasok
- Solutions developers — pengembang solusi
Setiap stakeholder memiliki concerns berbeda yang harus dipenuhi arsitektur — dari kepatuhan regulasi (legal regimes) hingga usability (application users).
Architecture Planning: Strategic
Dalam Architecture Management, terdapat fungsi Architecture Planning. Pada tingkat strategic, EA seharusnya menjadi fungsi business-as-usual yang terus-menerus membantu organisasi mengelola strategic change. Selain memelihara EA content, fungsi ini melakukan prioritisasi dan perencanaan tactical change activities, yang sering dikomunikasikan dalam bentuk road-map. Road-map menggambarkan urutan perubahan untuk mencapai visi strategis.
Architecture Planning: Tactical
Pada tingkat tactical, enterprise dan solution architects dapat terlibat dalam sejumlah proyek — misalnya sebuah programme yang men-deliver beberapa perubahan sesuai EA road-map. Ketika terdapat beberapa deliverable terpisah yang harus dirakit menjadi solusi holistik, programme plan dapat dipandang sebagai tactical road-map yang lebih detail — mencerminkan inter-project dependencies dan isu sinkronisasi yang perlu dikelola sebagai risks.
Architecture Governance: Mengapa Krusial
Governance telah disebut berulang kali sepanjang bab ini. Ia adalah fungsi kunci seorang arsitek dan bagian penting dari architecture management. Analogi tegasnya: “Architecture without governance is like requirements without testing.” — arsitektur tanpa governance tidak ada gunanya, sebagaimana requirements tanpa pengujian.
Governance perlu mengawasi seluruh aspek, terutama melalui validation dan verification terhadap struktur akhir maupun kepatuhan pada principles dan constraints lain yang dikenakan pada pengembangannya. Governance memerlukan tiga hal: sesuatu untuk di-govern, defined governance roles dengan otoritas, dan governance processes.
Something to Govern dan Governance Roles
Something to govern mencakup:
- Architecture contract yang mendefinisikan roles, responsibilities, dan authorities
- Target system organisation/structures (komponen dan relasinya) sebagaimana dideskripsikan pada level abstrak dalam architecture description
- Requirements yang mencakup legislasi, standar, principles, dan policies yang berlaku — harus menjadi bagian dari architecture description
Defined governance roles with authority: Umumnya terdapat level governance — dari corporate, melalui enterprise architecture, hingga solutions dan level specific architecture. Setiap level memiliki otoritas governance yang sesuai dengan cakupannya.
Governance Processes
Governance processes mencakup:
- Menetapkan architecture contract di awal untuk menggariskan roles, responsibilities, dan authority (termasuk governance roles)
- Mendefinisikan apa yang akan di-review melalui proses (lihat ‘something to govern’), kapan, dan oleh siapa
- Conducting reviews — menjalankan review
- Reporting dan acting atas hasil review, yang dapat mencakup pemberian dispensations kepada pihak terkait untuk menyimpang dari deskripsi awal dengan alasan valid
- Mengambil tindakan korektif atas discrepancies atau non-conformities
Proses ini memastikan arsitektur yang dibangun benar-benar sesuai dengan rencana, principles, dan policies, serta menyediakan mekanisme formal untuk penyimpangan yang dapat dibenarkan.
flowchart LR G["Something to Govern<br/>(contract, structures,<br/>requirements)"] R["Conduct Review<br/>(validation & verification)"] A["Report & Act<br/>(dispensations)"] C["Corrective Action<br/>(non-conformities)"] G --> R R --> A A --> C C --> G
Arsitektur melibatkan beragam stakeholders — dari board dan legal/compliance regimes hingga users, suppliers, dan developers — yang masing-masing memiliki concerns berbeda. Architecture management mencakup planning pada tingkat strategic (EA sebagai fungsi BAU yang menghasilkan road-map) dan tactical (programme plan sebagai road-map detail dengan inter-project dependencies sebagai risks). Governance adalah fungsi kunci arsitek — “architecture without governance is like requirements without testing” — yang mengawasi melalui validation/verification. Governance membutuhkan tiga hal: something to govern (architecture contract, target structures, requirements/principles/policies), defined governance roles berjenjang (corporate → EA → solution → specific), dan governance processes (menetapkan contract, mendefinisikan review, menjalankan review, melaporkan & memberi dispensations, serta mengoreksi non-conformities).
Additional Information
Stakeholder Analysis
Teknik Power/Interest Grid (Mendelow Matrix) membantu mengklasifikasi stakeholder: Manage Closely (high power, high interest), Keep Satisfied, Keep Informed, dan Monitor. Berguna untuk menentukan strategi engagement tiap stakeholder arsitektur.
Architecture Review Board (ARB)
Banyak organisasi membentuk ARB sebagai badan governance formal yang melakukan review terhadap proposal arsitektur, memberi approval/dispensation, dan memastikan kepatuhan terhadap principles. Mirip dengan governance roles berjenjang yang dijelaskan dalam catatan.
TOGAF Governance Framework
TOGAF mendefinisikan Architecture Governance dengan empat pilar: processes, content, organisation, dan governance repository. Phase G (Implementation Governance) dalam ADM memastikan implementasi sesuai target architecture melalui Architecture Contracts dan Compliance Reviews.
Roadmap Tools
- Capability-Based Planning: merencanakan road-map berbasis kapabilitas bisnis
- Tools: LeanIX, Sparx EA, Bizzdesign, ServiceNow APM untuk EA road-mapping
Self-Exploration Projects
- Buat Power/Interest Grid untuk stakeholder proyek sistem informasi rumah sakit.
- Rancang governance process (review checklist + dispensation flow) untuk sebuah Architecture Review Board.
Further Reading
- The Open Group. TOGAF Standard – Architecture Governance
- Weill, P., Ross, J. IT Governance: How Top Performers Manage IT Decision Rights
- COBIT 2019 Framework (ISACA) untuk Governance of Enterprise IT