Back to Biologi Sel dan Molekuler
Innate and Adaptive Immune System Functions
Questions/Cues
- Mengapa imunitas bawaan disebut pertahanan pertama?
- Bagaimana limfosit B dan T berkoordinasi?
- Apa perbedaan respon humoral dan seluler?
- Mekanisme memori imunologis jangka panjang
- Implikasi klinis dari gangguan imunitas
Reference Points
- Campbell Biology in Focus (Chapter 35, Slides 68-91)
- Lecture_01_DFS.pptx (Slides 70-85)
Imunitas Bawaan (Innate Immunity)
Imunitas bawaan merupakan sistem pertahanan pertama tubuh yang langsung aktif saat menghadapi patogen. Sistem ini terdiri dari barier fisik (kulit, membran mukus), sel fagositik (makrofag, neutrofil), dan protein antimikroba. Contohnya, kulit yang utuh mencegah masuknya bakteri, sementara lendir di saluran napas menjebak partikel asing. Reseptor Toll-like (TLR) pada sel imun berperan mengenali pola molekuler umum patogen (PAMP), seperti dinding sel bakteri. Ketika patogen berhasil masuk, sel dendritik dan makrofag akan melakukan fagositosis. Proses ini melibatkan penelanan patogen ke dalam vesikel (fagosom) yang kemudian bergabung dengan lisosom untuk degradasi enzimatis. Sebagai contoh, neutrofil dapat menghancurkan bakteri Staphylococcus dalam waktu 30 menit melalui mekanisme ini. Imunitas bawaan tidak memiliki memori spesifik, sehingga responsnya selalu sama terhadap paparan berulang.
Imunitas Adaptif (Adaptive Immunity)
Imunitas adaptif berkembang lebih lambat (5-7 hari) namun bersifat spesifik dan memiliki memori imunologis. Sistem ini melibatkan dua jenis limfosit: sel B yang matang di sumsum tulang dan menghasilkan antibodi, serta sel T yang matang di timus dan berperan dalam imunitas seluler. Reseptor antigen sel B (BCR) dan sel T (TCR) memiliki variabilitas tinggi karena rekombinasi gen V(D)J, memungkinkan pengenalan jutaan epitop berbeda. Aktivasi limfosit memerlukan presentasi antigen oleh sel penyaji antigen (APC). Sel T CD4+ (helper) mengoordinasikan respons dengan melepaskan sitokin, sedangkan sel T CD8+ (sitotoksik) menghancurkan sel terinfeksi virus. Contohnya, saat infeksi influenza, sel T CD8+ mengenali peptida virus yang dipresentasikan MHC I dan menginduksi apoptosis sel terinfeksi.
Respon Humoral vs Seluler
Respon humoral dimediasi antibodi dari sel B yang menetralkan patogen di cairan ekstraseluler. Prosesnya meliputi: (1) Pengikatan antigen ke BCR, (2) Aktivasi sel B oleh sel T helper, (3) Diferensiasi menjadi sel plasma penghasil antibodi. Antibodi IgM muncul pertama, diikuti IgG yang lebih spesifik. Contoh: Netralisasi toksin difteri oleh IgG. Respon seluler melibatkan sel T sitotoksik yang menghancurkan sel terinfeksi atau kanker. Mekanisme utama meliputi: (1) Pelepasan perforin dan granzim untuk induksi apoptosis, (2) Pengikatan FasL ke reseptor Fas pada sel target. Contoh: Penghancuran sel terinfeksi HIV oleh sel T CD8+.
Memori Imunologis
Memori imunologis terbentuk setelah paparan pertama antigen melalui pembentukan sel memori B dan T. Sel-sel ini berumur panjang (hingga puluhan tahun) dan dapat diaktivasi cepat saat paparan ulang. Pada respons sekunder, titer antibodi meningkat 10-100x lebih cepat dibanding respons primer. Mekanisme molekulernya melibatkan metilasi DNA pada gen inaktivasi sel memori. Vaksinasi memanfaatkan prinsip ini dengan memperkenalkan antigen dalam bentuk dilemahkan (vaksin MMR) atau subunit protein (vaksin Hepatitis B). Contoh keberhasilan: eradikasi cacar melalui vaksinasi massal yang menghasilkan imunitas herd.
Gangguan Sistem Imun
Autoimunitas terjadi ketika toleransi diri gagal, menyebabkan serangan terhadap antigen self. Rheumatoid arthritis disebabkan autoantibodi terhadap kolagen sinovial, sedangkan diabetes tipe 1 melibatkan destruksi sel beta pankreas oleh sel T. Faktor risiko termasuk polimorfisme gen MHC dan pemicu lingkungan seperti infeksi virus. Imunodefisiensi dapat kongenital (SCID akibat defek ADA) atau didapat (AIDS karena HIV). Pasien AIDS mengalami penurunan sel T CD4+ hingga di bawah 200 sel/μL, mengakibatkan infeksi oportunistik seperti Pneumocystis pneumonia.
Imunitas bawaan memberikan pertahanan langsung melalui barier fisik dan respons inflamasi, sementara imunitas adaptif mengembangkan respons spesifik dengan memori jangka panjang. Limfosit B menghasilkan antibodi untuk netralisasi patogen ekstraseluler, sedangkan limfosit T mengeliminasi sel terinfeksi. Vaksinasi memicu pembentukan sel memori untuk perlindungan jangka panjang, dan gangguan seperti autoimunitas menunjukkan pentingnya regulasi sistem imun yang ketat.
Additional Information
Mekanisme Molekuler Aktivasi TLR
Reseptor Toll-like (TLR) mengenali PAMP melalui domain TIR yang homologi dengan reseptor IL-1. Aktivasi TLR4 oleh LPS melibatkan adaptor MyD88, menimbulkan kaskade fosforilasi yang mengaktivasi NF-κB. Protein ini bertranslokasi ke nukleus dan menginduksi ekspresi gen proinflamasi (TNF-α, IL-6). Mutasi pada gen TLR4 berkaitan dengan peningkatan risiko sepsis bakterial.
Sitokin dalam Koordinasi Imun
Sitokin berfungsi sebagai sinyal kimiawi antar sel imun. IFN-γ dari sel Th1 mengaktivasi makrofag, sementara IL-4 dari sel Th2 menstimulasi diferensiasi sel B. “Badai sitokin” pada COVID-19 berat melibatkan pelepasan IL-6 dan GM-CSF berlebihan, menyebabkan kerusakan jaringan paru. Terapi anti-IL-6 (Tocilizumab) efektif menekan respons hiperinflamasi ini.
Imunoterapi Kanker
Checkpoint inhibitor (anti-PD-1/PD-L1) menghambat sinyal inhibisi sel T, meningkatkan respons antitumor. CAR-T cell therapy memodifikasi reseptor sel T untuk mengenali antigen tumor spesifik (contoh: CD19 pada leukemia). Efek samping utama adalah CRS (cytokine release syndrome) yang dikelola dengan anti-IL-6R.
Eksplorasi Mandiri
- Analisis perbedaan respons antibodi IgG dan IgM terhadap antigen protein vs polisakarida menggunakan uji ELISA
- Simulasi dinamika populasi sel T CD8+ selama infeksi virus dengan model SIR modificado
- Studi literatur tentang korelasi polimorfisme gen MHC dengan kerentanan penyakit autoimun di populasi Asia
Alat dan Sumber Daya
- Database ImmPort: https://www.immport.org (data ekspresi gen imun)
- CYTOLAB: Platform simulasi interaksi antigen-antibodi
- Software CellCollective untuk pemodelan jaringan sitokin
Bacaan Lanjutan
- Janeway’s Immunobiology, Edisi ke-9 (Bab 1-3)
- “The Immune System” oleh Peter Parham (Bab 8-10)
- Jurnal Frontiers in Immunology: https://www.frontiersin.org/journals/immunology
- Kursus online “Immunology: Immune System Signaling” di edX