Back to IF4020 Kriptografi
Hill Cipher dan Enigma Cipher
Questions/Cues
- Bagaimana Hill cipher memakai aljabar linier untuk enkripsi?
- Apa syarat matriks kunci agar bisa didekripsi?
- Mengapa Hill cipher mudah dipecahkan dengan known-plaintext attack?
- Bagaimana rotor Enigma menghasilkan cipher abjad-majemuk?
- Apa yang menjadi “kunci” pada mesin Enigma?
- Bagaimana sejarah pemecahan Enigma?
Reference Points
- IF4020 Kriptografi — Kriptografi Klasik Bagian 2 (Slides 95-119)
Hill Cipher
Dikembangkan Lester Hill (1929). Polygram cipher berbasis aljabar linier: mengenkripsi blok huruf sekaligus lewat persamaan linier. Untuk :
Dalam bentuk matriks: , dengan matriks kunci .
Contoh , plainteks
paymoremoney, tiga huruf pertamapay→LNS. Selengkapnya:LNSHDLEWMTRW.Dekripsi Hill Cipher
Perlu invers matriks modulo 26 sehingga :
Untuk matriks :
dengan , dan harus ada — artinya . Contoh: , , dan . Untuk pakai eliminasi Gauss-Jordan atau rumus adjoin/kofaktor.
Kekuatan dan Kriptanalisis Hill
Kekuatan: menyembunyikan frekuensi huruf tunggal — huruf plainteks sama belum tentu jadi cipherteks sama (tiap huruf output bergantung pada seluruh huruf blok).
Kelemahan: mudah dipecahkan dengan known-plaintext attack. Bila kriptanalis punya cukup pasang untuk menyusun matriks yang invertibel:
Contoh : dan . Susun , hitung , lalu .
Enigma Cipher
Mesin enkripsi elektromekanik — ditemukan & dipatenkan insinyur Jerman Arthur Scherbius untuk keperluan komersial, diplomatik, militer. Terkenal karena dipakai Nazi Jerman pada PD II. Enigma dari Latin aenigma = “teka-teki”.
Cara kerja: operator mengetik huruf plainteks di keyboard, huruf cipherteks menyala di lampboard, disalin dan dikirim.
- Menggunakan sistem rotor (roda berputar). Setiap rotor melakukan substitusi abjad-tunggal.
- Output satu rotor menjadi input rotor berikutnya; output rotor terakhir = huruf cipherteks.
- Setiap kali sebuah huruf dienkripsi, rotor berputar satu langkah → tabel substitusi berubah. Setelah 26 putaran rotor kembali ke posisi awal → cipher abjad-majemuk berperiode 26.
- Rotor kedua bergeser satu langkah setiap rotor pertama menyelesaikan 26 langkah, dst (seperti odometer).
flowchart LR KB["Keyboard: huruf P"] --> PB["Plugboard"] PB --> R3["Rotor 3"] --> R2["Rotor 2"] --> R1["Rotor 1"] R1 --> RF["Reflector"] RF --> R1b["Rotor 1"] --> R2b["Rotor 2"] --> R3b["Rotor 3"] R3b --> PB2["Plugboard"] --> LB["Lampboard: huruf C"]Model 3-rotor / 4-rotor. Untuk 4-rotor: kemungkinan sebelum urutan berulang. Kunci Enigma = posisi awal keempat rotor (yang bisa di-set), ditambah pengaturan plugboard dan pilihan/urutan rotor.
Sejarah Pemecahan Enigma
- Kriptanalisis Enigma pertama oleh kriptografer Polandia Marian Rejewski, Jerzy Różycki, Henryk Zygalski (1932).
- Jerman mendesain ulang Enigma (1939) dengan menambah reflector dan plugboard → metode lama tak berlaku.
- Dengan bantuan Polandia, Prancis & Inggris membuat mesin pemecah baru bernama Bombe, dirancang Alan Turing di Bletchley Park.
- Bombe berhasil memecahkan Enigma. Keberhasilan ini dianggap memperpendek Perang Dunia II hingga sekitar dua tahun.
Hill cipher (Lester Hill, 1929) mengenkripsi blok huruf dengan perkalian matriks: ; dekripsi menuntut ada, yaitu . Ia menyembunyikan frekuensi huruf tunggal tetapi runtuh oleh known-plaintext attack: cukup pasangan untuk menghitung . Enigma adalah mesin rotor elektromekanik: tiap rotor = substitusi abjad-tunggal, dan rotor berputar tiap huruf sehingga keseluruhannya menjadi cipher abjad-majemuk berperiode besar. Kunci = posisi awal rotor + plugboard + urutan rotor. Dipecahkan Polandia (1932), lalu — setelah Jerman menambah reflector & plugboard (1939) — oleh Bombe rancangan Alan Turing, yang memperpendek PD II. Cipher modern (lihat Algoritma Kriptografi) mewarisi ide substitusi–permutasi berlapis ini dengan operasi jauh lebih kompleks.
Additional Information
Cacat Desain Enigma yang Fatal
Reflector membuat enkripsi Enigma involutif (menekan huruf yang sama mendekripsi), memudahkan operasi — tetapi menjamin sebuah huruf tak pernah dienkripsi menjadi dirinya sendiri. Cacat ini plus cribs (potongan plainteks yang bisa ditebak, mis. laporan cuaca
WETTERBERICHT) memberi Bombe titik masuk untuk mengeliminasi jutaan pengaturan rotor secara mekanis. Kesalahan prosedural operator Jerman (indikator pesan yang dapat ditebak) memperparahnya.Hill Cipher dan Kriptografi Modern
Meski usang, Hill cipher memperkenalkan difusi: satu huruf plainteks memengaruhi banyak huruf cipherteks. Konsep ini formal dalam kriteria Shannon confusion & diffusion yang memandu desain AES (lapisan
MixColumnspada dasarnya perkalian matriks atas ).Proyek Eksplorasi Mandiri
- Implementasikan Hill cipher dan dengan invers matriks modular; tambahkan known-plaintext solver yang memulihkan .
- Bangun simulator Enigma 3-rotor (rotor I–III historis + reflector B) dan verifikasi sifat involutif serta “no letter maps to itself”.
Bacaan Lanjutan
- William Stallings, Cryptography and Network Security, Bab 3.2 (Hill Cipher).
- Simon Singh, The Code Book, Bab 4 (Enigma & Bletchley Park).
- Simulator:
101computing.net/enigma/enigma-instructions.html.