Back to IF4033 Keamanan Siber

Segregasi Jaringan, Firewall, VPN, NAC, dan DMZ

Questions/Cues

  • Apa tujuan dan manfaat network segregation?
  • Bagaimana firewall bekerja dan apa saja jenisnya?
  • Apa fungsi VPN dan Network Access Control?
  • Apa itu DMZ?

Reference Points

  • IF4033 Network Security (Slides 17-25)

Network Segregation

Membuat jaringan (sub-jaringan) yang terisolasi sehingga bagian berbeda tidak berinteraksi kecuali diizinkan secara eksplisit. Manfaat: memperlambat penyerang, meningkatkan keamanan data, dan membatasi dampak serangan yang berhasil. Bentuknya: pemisahan fisik atau logis (subnet, VLAN, firewall, ACL, NAT).

Subnet

Subnetting memecah jaringan besar menjadi segmen kecil terisolasi, meningkatkan keamanan, kinerja, dan kemudahan pengelolaan lewat kontrol aliran trafik antar-segmen.

Firewall

Titik choke point untuk kontrol dan monitoring yang menghubungkan jaringan dengan tingkat kepercayaan berbeda. Fungsinya: membatasi layanan jaringan (hanya trafik yang berwenang), melindungi dari ancaman eksternal, membagi jaringan menjadi segmen aman, audit dan kontrol akses, alarm untuk perilaku abnormal, dan menjadi pertahanan perimeter; ia sendiri harus kebal terhadap penetrasi.

Cara kerja: 1) packet inspection, 2) rule application, 3) stateful monitoring, 4) logging dan alert.

Jenis: packet filtering gateway/screening router, stateful inspection, application proxy, guard, personal firewall, application firewall, database firewall, NAT, dan next-generation firewall.

VPN

Mekanisme membuat koneksi aman antara perangkat dan jaringan, atau antar dua jaringan, melalui medium tidak aman seperti Internet publik. Protokol: OpenVPN, IPsec, L2TP, PPTP.

Network Access Control (NAC)

Empat langkah: device identification, authentication, compliance check, access control, sehingga hanya perangkat teridentifikasi dan patuh yang boleh terhubung.

De-Militarized Zone (DMZ)

Segmen jaringan (fisik/logis) yang menghubungkan host yang berinterface dengan jaringan eksternal tidak tepercaya (Internet) dan jaringan internal privat, terisolasi dari keduanya. Server publik (web, mail) ditaruh di DMZ agar jika dikompromikan, jaringan internal tetap terlindungi.

flowchart TD
    NET["Internet<br/>(tidak tepercaya)"] --> FW1["Firewall 1"]
    FW1 --> DMZ["DMZ<br/>web, mail, DNS"]
    DMZ --> FW2["Firewall 2"]
    FW2 --> LAN["Internal LAN"]

Asal Istilah dan Gagasan Dasar

Istilah demilitarized zone dipinjam dari dunia militer: wilayah penyangga antara dua pihak yang tidak saling percaya. Di jaringan, gagasannya sama: layanan yang harus bisa dijangkau dari Internet tidak boleh berada di jaringan yang sama dengan aset internal paling berharga. Server publik adalah target paling mungkin diserang, jadi ia ditempatkan di zona “korban yang bisa dikorbankan” yang sudah dibatasi jangkauannya.

Apa yang Biasanya Ditaruh di DMZ

  • Web server (HTTP/HTTPS) yang melayani publik.
  • Mail gateway/relay, DNS publik (authoritative), dan reverse proxy/load balancer.
  • VPN gateway dan server FTP/SFTP untuk pihak luar.
  • Bukan di DMZ: database inti, server file, domain controller, dan sistem HR/keuangan. Ini tetap di jaringan internal.

Arsitektur DMZ

ArsitekturCaraKelebihanKekurangan
Single firewall (three-legged)Satu firewall dengan tiga antarmuka: Internet, DMZ, LANMurah dan sederhanaFirewall menjadi single point of failure; jika dibobol, semua zona terbuka
Dual firewall (back-to-back)Firewall luar (Internet↔DMZ) dan firewall dalam (DMZ↔LAN), idealnya dari vendor berbedaLebih kuat: penyerang harus menembus dua lapisBiaya dan pengelolaan lebih besar

Diagram di atas adalah arsitektur dual firewall.

Aturan Lalu Lintas

Prinsipnya default-deny dan arah yang asimetris:

ArahKebijakan
Internet → DMZDiizinkan hanya port layanan publik (mis. 80/443, 25)
Internet → LANDiblokir
LAN → DMZDiizinkan secukupnya (mis. admin mengelola server, SSH/RDP dari host tertentu)
DMZ → LANSangat dibatasi: hanya koneksi spesifik yang diperlukan (mis. web server ke satu port database)
DMZ → InternetDibatasi (hanya update/DNS yang perlu), agar server yang dikompromikan tidak mudah menghubungi C2

Baris DMZ → LAN adalah yang paling krusial: jika server DMZ dikompromikan lalu bebas mengakses LAN, DMZ kehilangan seluruh fungsinya.

flowchart LR
    I["Internet"] -->|"80/443 saja"| D["DMZ"]
    I -.->|"diblokir"| L["Internal LAN"]
    A["Admin (LAN)"] -->|"SSH/RDP terbatas"| D
    D -->|"1 port DB<br/>(spesifik)"| L

Contoh Skenario

Sebuah web aplikasi kampus berjalan di DMZ. Penyerang mengeksploitasi celah di aplikasi dan menguasai web server. Karena DMZ terisolasi, ia tidak bisa langsung memindai atau mengakses server nilai, file server, atau domain controller di LAN; ia hanya bisa mencoba lateral movement yang sangat dibatasi aturan firewall dalam dan terdeteksi oleh log serta IDS. Tanpa DMZ (web server di LAN yang sama), kompromi satu server berarti seluruh LAN terbuka.

Keterbatasan dan Praktik Baik

  • DMZ bukan jaminan: server di DMZ tetap harus di-hardening, di-patch, dan dipantau (IDS/IPS, logging terpusat). Lihat Software Security dan Application Layer: firewall perimeter tidak melihat serangan lapisan aplikasi.
  • Aturan DMZ → LAN harus diaudit berkala; pelonggaran sementara yang tidak dicabut adalah sumber kebocoran klasik.
  • Pemisahan lebih lanjut: pecah DMZ menjadi beberapa subzona (mis. web, mail, database terpisah) agar satu server yang jatuh tidak membuka server DMZ lain.
  • Penerapan di cloud: konsepnya diwujudkan lewat public/private subnet, security group, dan NetworkPolicy; model modern bergerak ke Zero Trust (Desain Klasik vs Cloud-Native - Perimeter hingga Zero Trust).

Catatan: bagian di atas (asal istilah hingga praktik baik) adalah pengayaan dari pengetahuan umum, bukan dari slide, yang hanya memuat definisi dan gambar DMZ.

Summary

Segregasi jaringan (subnet, VLAN, firewall, ACL, NAT) membatasi pergerakan penyerang dan dampak insiden. Firewall adalah choke point yang melakukan packet inspection, penerapan aturan, stateful monitoring, serta logging; jenisnya mulai dari packet filter hingga next-gen. VPN mengamankan komunikasi lewat medium publik, NAC memastikan perangkat teridentifikasi, terautentikasi, dan patuh, sedangkan DMZ menampung layanan publik terisolasi dari jaringan internal.